Monday, April 4, 2011

--- Persahabatan yang Tulus ---


بسم الله الرحمن الرحيم
Abu Sulaiman Darami berkata,
 ''Jangan sekali-kali engkau bersahabat 
kecuali salah satu dari dua macam ini. 
Pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat
 dalam urusan duniamu dengan jujur. 
Dan, kedua orang yang karena bersahabat dengannya 
engkau memperoleh kemanfaatan untuk urusan akhiratmu.''

Islam sangat menjunjung tinggi persahabatan. 
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, 
''Tidakkah engkau beriman sehingga 
engkau mencintai sesama saudaramu 
sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.''

Wujud refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya 
untuk selalu membela sesama saudaranya, 
tetapi tampak pula dari tutur katanya yang lemah lembut, 
caranya bicara yang sangat waspada.
 Dia takut apabila ada orang lain 
tersakiti hatinya karena lidahnya, 
walau dalam bercanda atau senda gurau sekalipun.

Lihatlah tanda-tanda persaudaraan itu;
 ketika kita memberi sesuatu
 maka dia akan menerimanya dengan rasa haru. 
Ketika kita dalam kesulitan, 
dialah orang pertama yang menawarkan diri
 untuk meringankan beban. 
Ketika dalam kegelapan, 
dialah manusia paling merasa bersalah
 karena merasa tidak memberikan pelita.

Penderitaannya bukanlah karena dirinya lapar
 atau sakit merintih dalam rasa nyeri. 
Penderitaan yang dia rasakan adalah
 ketidakberdayaannya ketika 
melihat saudaranya kedinginan mengerang kelaparan;
 menanggung beban hidup berkepanjangan. 
Kebahagian baginya adalah apabila dia bisa 
bagaikan cahaya yang menerangi sekitarnya.

Renungkanlah, ketika Rasulullah memekik karena sakit 
yang tak tertahankan tatkala malaikat mencabut nyawa Beliau.
 ''Ya Allah, dahsyat nian maut ini,
 timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.''

Tubuh Rasulullah SAW mulai dingin, kaki dan dada beliau sudah tak bergerak. Bibir beliau bergetar seakan hendak menyampaikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinga beliau. ''Uushikum bishshalati, wa ma malakat aimanukum (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu).''

Fatimah menutupkan tangan ke wajahnya, sementara Ali kembali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, ''Ummatii, ummatii, ummatii (umatku, umatku, umatku),'' bisik Rasulullah. Begitulah ketulusan cinta Rasullah SAW kepada kita. Di antara sakaratul maut Beliau, kita diingatnya. Betapa ikhlasnya perjuangan dan pengorbanan Rasulullah SAW; hanya berharap dapat memberikan kebaikan yang terbaik bagi kita. Sebagai umatnya, sudahkah kita bisa dengan tulus mengasihi sesama, seperti dicontohkan Beliau?

No comments: